May 30, 2011

Freedom

Why do we care so much about what others say and think about us?
Why do we have to be on a positive pedestal in other people's eyes?
Can't we approve ourselves that we always have to expect approval from others?
Why do we let people define who or what we are, and what is worse is that we believe their definition of us?
Why do we sacrifice our own inner peace and happiness just to impress people who don't even matter?

Are we afraid to be chastised if we dont take the well trodden path? Are we reluctant to leave our comfort zones where there's power of majority and it's difficult to be a minor?

A friend got an invitation to an insignificant meeting in her religious community. She resents these meetings as she thinks of those as a waste of time. The meetings have no point whatsoever and afterwards she always feels depressed. But everytime she gets the invitation, she attends the meetings, which kinda puzzles me..

Me: Why do you still attend if you despise such meetings?
Her: Because I don't want to cause any havoc. If I didn't come, then the other people would start asking where I was, why I didn't come, etc. You know how they would judge..
Me: It is an invitation, which means attendance is optional right? And who gives them the right to question you where you were? Just tell them to mind their own business. They're not your parents, and you guys aren't that close either. And no matter how they judge you, you won't lose a feather either..
Her: A little sacrifice of attending isn't that harmful if I can avoid any complicated inconveniences.
Me: Ok.

At this point I shut my big mouth, but still I couldn't stop wondering why she had to do that. Sacrificing her own peace of mind only to avoid negative opinions of her fellow church goers, who're not important to her either. This pattern has been going for years. Why doesn't she want to break the chain? I know for sure that she feels really downcast because of those ungrounded questionings and judgments. Why doesn't she just leave the community?

Is it because she's afraid of the prospect of having to meet new people and new environment? Because there's some emotional security in the familiarity of her current community?

I can't really relate with her in this case as I love getting to know new people and I'm always craving for variety in life, trying out new things, challenging my own limit. We only live once and we have to make the best of it, enriching ourselves with new experiences etc and we shouldn't waste our time being afraid of what other people think of us, those who don't even matter.

As for me, maybe it's easier for me to not give a dam* about what others think of me. People always stare at me, even if I do nothing.. and who knows what they're thinking. And a stare is surely not a sign of a positive impression, is it? I used to care and I was down. "What's wrong with me? Why do people stare? Is this or that wrong? What're they thinking about me? Etc.."

But at one point of my life, I stopped caring. Either I do something or nothing, people stare, so why don't I do something then? ;) Sometimes I don't even know them, they do not have any influences in my life whatsoever and I mind what they think? How stupid am I?
And I started telling myself, this is me and my life. What they think is their own business, and what I do is my own responsibility. I can't please everybody, people will always be afraid of differences in life, I refuse to ease their fear and I won't waste my energy to please those who're not even important. No one can define me but myself and I won't place my happiness in other people's hands.

Someone used to ask me the definition of freedom.
For me, freedom means self acceptance and the courage to be different.

I think at that point where I stopped caring about people's opinions, I learned to accept myself, the fact that I'm different and I was getting more in line with the inner me. Or maybe it's the other way around? Once I embraced my fortes and flaws, I stopped feeling dejected by external opinions.
I'm still a long way from self enlightenment or awareness or whatever term people use, but at least I can say that now I'm happy with who I am and it is indeed liberating to be able to express myself without having to worry about what people (who don't matter) think.
Of course we all should bear in mind that too much is never good, which means I ,too, still have to strive after balance. (Note: I do listen to those I love..)

I never said it's easy to achieve my personal freedom, especially if we live in a small and homogenous community, but courage is all it takes. Courage to be different, courage to break the chains, courage to leave your comfort zones and venture out there, courage to spread your wings and embracing the possibility of falling. We shouldn't let our fear hinders us to go the distance.
(AMEN. *I may almost add :p)

---------------------------------------------------

And I'll sing the blues if I want

May 28, 2011

Menggugat Tuhan 4

7. Kebenaran Alkitab

Darimana kita tahu bahwa semua yang tertulis didalam Alkitab ini absolut benar? Tidak pernah ada klaim bahwa Alkitab jatuh dari langit dan ditulis oleh tangan Tuhan sendiri bukan? Tidak seperti Alquran atau tablet Musa (10 perintah Allah) yang katanya diturunkan langsung olehNya. Sedangkan the Holy Bible adalah sebuah produk dari perkembangan zaman dan konsili gereja Katolik, dimana mereka mengedit dan memutuskan Kanon apa saja yang akan dimasukkan kedalam Perjanjian Baru. Dan gospel itu sendiri ditulis oleh banyak orang, rasul, manusia dengan memasukkan persepsi dan interpretasi mereka sendiri, dan jangan lupakan bahwa terjemahan bahasa juga akan merubah sedikit banyak arti kalimat. Bayangkan betapa panjangnya proses translasi yang dilalui sebuah Alkitab bahasa Indonesia. Dari bahasa asli Aramaic ke Yunani ke Latin ke Jerman oleh Martin Luther dan seterusnya. Dan seorang penerjemah juga memiliki peran yang sangat penting. Bila Martin Luther memisinterpretasi beberapa ayat, bukankah ini akan menjadi efek bola salju yang ikut mempengaruhi kredibilitas Bible modern?

Jadi apakah kebenaran Bible itu absolut? Belum tentu menurutku. Jika kita mempertimbangkan faktor sosial, pendidikan pada zaman itu, dimana sebagai contoh, seorang wanita masih dipandang inferior, apakah ini bisa diterapkan di zaman modern ini? Salah satu perintah Allah menurut Musa. "Jangan menginginkan milik tetanggamu, harta kekayaan, istri, ternak." Disini istri dikategorikan sebagai barang kepemilikan sama seperti hewan ternak. Aku tidak akan mengutuk pasal ini, tidak juga merasa teriritasi. Ini dapat dimengerti, karena mereka hidup di zaman yang berbeda. Tapi apakah ini bisa dipraktekkan sekarang ini?
Oleh karena ini aku tidak terlalu mengerti bahwa banyak orang Kristen yang aku kenal yang mempondasikan hidup mereka pada Alkitab, semua diambil secara literal. Tahu darimana mereka bahwa semua itu pasti benar? Lebih parahnya lagi bila digabungkan dengan persepsi fanatik atau twisted dari masing-masing pribadi.

Aku selalu merasa sedih jika mendengar mereka bilang, jauhilah orang-orang yang sesat karena tercatat di Buku Suci (dan aku kutip) "Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik". Ayat ini kemudian dijadikan pondasi untuk mengadili orang lain, merasa diri mereka sendiri epitom dari kebaikan. Sedangkan aku merasa lebih tenang bila melihat dari sisi cerita Yesus makan bersama Zakheus si pemungut cukai. Bukankah ini sudah kontradiktif? Yah jangan dengarkan aku, mungkin aku hanyalah seorang pendosa yang tidak suka dihakimi.

Aku bertanya pada seorang Kristen yang aku hormati, darimana dia tahu bahwa kebenaran kitab ini absolut. Dia menjawab bahwa dalam setiap masalah yang ia hadapi dalam hidup, selalu ada jawaban relevan yang dapat ia temukan disana.

Jawaban ini tidak cukup memuaskan bagiku. Menurutku jelas akan selalu ada relevansi jika kita sengaja mencari-cari. Tidak usah kita bicara Bible yang terdiri dari berpuluh-puluh Kanon, beribu-ribu halaman. Dalam sebuah lirik lagu yang mungkin hanya berbelas baris saja kita bisa menemukan relevansi ke hidup kita. Misalnya saat aku patah hati, lalu tiba-tiba aku dengar lagu I Will Survive di radio, ah, relevan sekali. Apakah boleh juga itu kuanggap divine revelation? Eh, sesudah itu kudengar lagu Everytimenya Britney, eh relevan juga ya?

Sebagai perbandingan lain: ramalan Nostradamus.
Ingat kejadian Twin Tower 9/11? Orang-orang sibuk mencari penjelasan dan relevansi.
"At forty-five degrees the sky will burn, Fire to approach the great new city: In an instant a great scattered flame will leap up"
Banyak yang menginterpretasikan ini sebagai 9/11 karena New York terletak kurang lebih di 45 derajat equator. Pendapatku? ah defisiensi logik.

Menurutku poinnya disini adalah bahwa cara penulisan yang tidak gamblang dan eksplisit akan membuka ruang untuk interpretasi dan fantasi personal. Absolutismus? Tidak.

8. Pengorbanan tertinggi Yesus

Konon saat kita lahir kita sudah terikat hukum Taurat. Yang berarti semua ditimbang dengan neraca. Tapi karena kita manusia berdosa, timbangan kita tidak akan plus, oleh karena itu diutuslah Yesus datang ke dunia untuk mem-plus-kan timbangan kita dihadapan sang hakim agung.

Aku koq garuk-garuk kepala ya? Bukan aku koq yang mau diikat dengan hukum Taurat? Siapakah yang melegitimasi hukum ini? Tuhan sendiri.. Lalu apakah sekarang Ia menyesal karena hukumNya ini terlalu berat, lalu Ia mengutus sang Anak untuk menebusku? Ya bukan urusanku.. Itu inkonsistensi pemerintah, aku hanya seorang reluctant tax payer di negara yang memaksa memajaki aku.

Ibaratnya ibuku keras terhadapku. Bila aku salah aku dipukuli, kemudian suatu saat mungkin ibuku menyesal atau kasihan, lalu diberikannya aku sebuah mobil. Oh, terima kasih. Tapi ia mengharapkan aku untuk menyembah mobil ini, membersihkannya setiap hari, dan jika aku lupa isi bensin, aku akan dihukum lagi, mungkin bahkan lebih berat. Katanya,"Kamu sudah dikasih mobil, isi bensin doank apa susahnya sih? Kalo kamu ga isi bensin, kamu bukan anak mama lagi." Hm, ini hanya menambah bebanku rasanya. Mending ga usah deh.. Aku juga tidak pernah minta mobil koq.. Toh dari pertama aku tidak punya hak untuk protes juga saat dipukuli. Kekuasaan mamaku absolut, tapi saat ia inkosisten, tidaklah lucu bahwa ia mengharapkan bahwa aku menerima perubahan dan melupakan semua pukulannya dengan senyum diwajah.

Saat aku join komsel, semua orang yang ada disitu menangis saat leader komsel menceritakan sebuah kisah sedih.
Suatu hari seorang penjaga rel kereta api membawa anaknya pergi bekerja bersamanya. Anak satu-satunya ini bermain-main di bawah rel. Dari kejauhan datang sebuah kereta api berisi ratusan orang. Bapak penjaga rel sekarang dihadapkan dengan dilema fatal dimana ia harus memutuskan untuk menurunkan rel dan mengorbankan anaknya untuk terjepit rel atau tidak menurunkan rel yang berarti anaknya akan selamat, tapi kereta itu akan terlempar jalur dan mengorbankan nyawa ratusan orang di kereta tersebut. Akhirnya dengan hati yang teramat sakit, bapak ini menurunkan rel dan membiarkan anaknya mati terlindas kereta untuk menyelamatkan nyawa ratusan orang didalam kereta.

Kemudian si leader komsel berkata,"Bayangkan, betapa sakitnya Bapa saat harus mengorbankan anak satu-satuNya untuk menyelamatkan manusia. Dan betapa tidak tahu diuntungnya manusia dalam kereta itu jika mereka masih tidak tahu berterima kasih kepada si bapak penjaga rel."

Ya, disini saya persilakan Anda untuk melempari saya dengan batu. Saya, the cold-hearted bitter bitch.

Saya tidak menangis. Saya malah berpikir:
1. Si bapak tidak seharusnya membiarkan anaknya bermain di rel. Itu memang sudah tugas dan tanggung jawabnya untuk memastikan keselamatan penumpang kereta.
Tapi saya tidak memungkiri bahwa manusia melakukan kesalahan dan saya tidak mengecilkan arti kesedihan si bapak penjaga rel. Banyak terima kasih kepada bapak rel untuk pengorbananannya. Enough said. Saya tidak ingin mengelaborasi disini.

2. Analogi ini tidak tepat sama sekali.
Kesedihan bapak penjaga rel TIDAK sama dengan kesedihan Tuhan. IF/KALAU/JIKA si bapak rel bisa membangkitkan anaknya lagi, atau sudah tahu bahwa anaknya akan hidup lagi dalam tiga hari, ia tidak akan begitu sedih dan sakit hati. Mungkin ia akan duduk-duduk minum kopi sambil membaca koran, sambil menunggu hari ketiga saat anaknya bangun lagi. Ya mungkin ada rasa cemas, sedih karena anaknya harus kesakitan. Tapi kalau aku dihadapkan dalam situasi ini, aku tidak akan sedih pake banget.

Disini aku jadi merasa Tuhan koq kayak sutradara puppet show ya? Dramatis melebihi korean drama malahan.. Dan kita penonton yang bodoh, diaduk-aduk emosinya.

-----------------------------------------------
Konklusi akhir: Persepsiku tentang Tuhan berbeda dari mereka the religious church-goers.
Tuhan itu maha canda,
(tapi tidak berarti maha baik dan maha konsisten)

"I refuse to be forced to believe in other people's interpretations of God. I don't think anybody should be. No one person can own the copyright to what God means.” -Marilyn Manson

May 27, 2011

May 25, 2011

Menggugat Tuhan 3

5. Tentang pilihan bebas.

Selalu dikatakan bahwa aku memiliki pilihan bebas untuk memutuskan apakah aku mau menerima dan percaya. Jika aku percaya maka aku akan selamat. Jika tidak?
Saat aku dilahirkan, apakah aku diberi pilihan bebas untuk memilih apakah aku memang mau lahir atau tidak? Atau dimanakah aku ingin hidup, di keluarga macam apa? Rasanya tidak. Aku dipaksa untuk menerima.

Lalu saat things get harder, aku diberi pilihan bebas? Mengapa tidak ada yang memaksa aku untuk percaya? Aku ingin dipaksa, seperti aku dipaksa untuk menerima pemberian hidup. Alangkah tidak adilnya saat aku harus membuat keputusan sulit yang berhubungan dengan keselamatanku, aku diberi pilihan. Sedangkan saat tidak ada yang dipertaruhkan, aku tidak diberi pilihan. Ini anomali.

6. Tentang memaafkan

Kita diajar untuk selalu memaafkan. 7 kali 77 kali. Ini konsep yang amat baik. Terima kasih. Tapi mari kita lihat siapa yang mengajarkan konsep ini? Sesosok yang menghukum Adam dan Hawa untuk selamanya karena satu kesalahan (memakan buah dari pohon pengetahuan)? Dimanakah forgiveness? Yang menurutku pun sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Ibaratkan seorang ibu yang memberitahu anak-anaknya untuk tidak memegang pisau, tetapi sebilah pisau diletakkan dalam jangkauan tangan anaknya. Menurutku kondisi mental Adam dan Hawa bagaikan anak kecil yang belum tahu apa-apa, dan anak kecil biasanya punya rasa keingintahuan yang sangat besar. Ini seharusnya disadari oleh semua orang tua, bila mereka tidak ingin anaknya teriris pisau, maka seharusnya pisau itu disembunyikan. Bukan malah dipajang didepan mata.

Jika jawaban Anda adalah bahwa Tuhan hendak memberikan pilihan bebas kepada Adam dan Hawa, tidak seperti robot yang hanya diprogram, maka mari kita kembali ke poin kelima. Mereka tidak bebas memilih apakah mereka ingin diciptakan, juga tidak bebas memilih jenis kelamin mereka, maka mengapa tiba-tiba diberikan pilihan bebas ketika banyak yang harus dipertaruhkan?

May 12, 2011

Menggugat Tuhan 2

3. Tentang panggilan

Waktu aku join Komsel, ada yang bilang,"Aku berasal dari keluarga non kristen, tapi tiba tiba aku merasa terpanggil oleh Tuhan, dan aku minta orang tuaku mengantarku ke gereja. Sejak itu aku percaya." Which got me into thinking, benarkah ada panggilan? Atau itu indoktrinasi? Dia bersekolah di sekolah kristen/katolik. Selama bertahun-tahun ada pendidikan wajib agama kristen. Jadi mungkin juga 'panggilan' itu berasal dari brainwashing bukan?

Ada seorang teman religius yang berargumen bahwa itu benar sebuah panggilan. Karena dari sekian banyak anak-anak yang bersekolah di sekolah kristen, tidak semuanya terbrainwashed. Menurutku itu wajar saja, karena memang tidak semua karakter manusia itu sama. Ada yang restless dan mencari arti hidup atau memang lebih perseptif, ada juga yang lebih pragmatis, hidup hanya untuk survival. Yang penting makan enak tidur enak. Argumen ini tidak cukup kuat untuk mematahkan teori indoktrinasiku.

Bila memang benar ada 'panggilan' kristiani, mengapa hanya orang-orang yang terekspos dengan agama tertentu ini yang terpanggil? Mengapa para militan Taliban tidak merasa terpanggil? Atau mengapa anak-anak Rusia yang sejak kecil dilatih menjadi agen KGB juga tidak merasakan panggilan ini?

Lebih ekstrim lagi, anak yang dibesarkan di komunitas serigala misalnya, mengapa mereka tidak dipanggil?
Bukankah panggilan itu dari hati nurani, seharusnya tidak terikat oleh logika dan faktor-faktor eksternal lainnya? Aku yakin bahwa anak-anak Taliban, KGB, dll ini punya hati nurani, tetapi karena mereka diindoktrinasi oleh komunitas dimana mereka tumbuh, mereka mempunyai konsep kebenaran yang berbeda. Jadi pertanyaanku sekali lagi, mengapa panggilan yang seharusnya universal ini menjadi lebih tergantung dari faktor lingkungan, pendidikan dan geografis?

4. "Segala yang baik berasal dari Tuhan"

Menurut pak pendeta, manusia mempunya subconscience/alam bawah sadar yang delapan kali lebih kuat daripada kesadaran kita. Contoh manifestasinya, banyak orang gagal karena di alam bawah sadar mereka, mereka sudah memberi label diri bahwa mereka tidak akan sukses. Tidak peduli bagaimanapun kerasnya mereka berusaha, alam bawah sadar akan selalu menang.

Aku tidak percaya ini. Aku selalu percaya bahwa mind power dapat mengalahkan suara-suara miring dari dalam diri. Bahasa lainnya hipnotis diri. Yang kita perlukan adalah awareness. Misalnya saat kita marah, jika kita sadar/aware bahwa kemarahan itu merugikan diri kita sendiri, maka kita akan bisa memprogram otak dan kesadaran kita untuk let go kemarahan itu.

Pak pendeta memberi contoh, anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang selalu mengkritik akan mempunyai self image negatif tentang diri mereka (baca: alam bawah sadar yang negatif). Aku juga dibesarkan dalam keluarga yang komparatif dan tidak pernah puas. Jika menuruti teori pak pendeta, maka aku akan menjadi seseorang yang minder dan tidak percaya diri, mungkin bahkan gagal. Tetapi karena aku banyak membaca dan percaya pada mind power, aku bisa secara repetitif berkata pada diriku sendiri bahwa aku berharga dan aku berhasil. Memang butuh waktu untuk mencapai titik dimana aku berada sekarang. Tapi aku bisa dengan sangat yakin mematahkan teori bahwa alam sadar tidak mungkin mengalahkan alam bawah sadar. Ya memang ada saat-saatnya alam bawah sadar akan mengambil alih, tapi jika kita terus menerus melatih awareness pikiran kita, tidak ada yang mustahil.

Hubungannya Tuhan dengan alam bawah sadar?
Katanya jika kita menerima Tuhan dalam hidup kita, maka Tuhan akan mengubah alam bawah sadar kita dan itu akan memudahkan kita untuk melakukan segala sesuatu yang positif. Misalnya, bila seorang perokok menerima Tuhan dalam hatinya, subconsciencenya akan diubah sehingga ia bahkan tidak mempunya keinginan untuk merokok lagi. Tidak perlu ada mind struggle disini.

Kataku? Aku tidak percaya. titik. Ayah temanku seorang perokok berat selama puluhan tahun, bukan orang percaya, dan beliau bisa berhenti merokok dalam satu hari. Tidak perlu perubahan alam bawah sadar jika seseorang mempunyai awareness dan mind power yang kuat. Aku malahan merasa bahwa kepercayaan ini sebuah excuse (apa sih bahasa indonesianya)untuk orang-orang lemah yang butuh motivasi eksternal. Orang-orang yang tidak sanggup memotivasi dirinya sendiri dari dalam.

Aku terdengar makin keras? Ya. Dan gugatanku belum selesai.

May 10, 2011

Menggugat Tuhan

1. Tentang Limit/batas pegas

Kita selalu mempersonifikasi Tuhan sebagai bapak yang baik. Ijinkan aku menggugat. Menurutku ada dua kalimat yang kontradiktif. Dalam doa Bapa Kami, ada baris yang berbunyi Jadilah kehendakMu. Dalam Matius 7:7: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Rasanya ini tidak komplit. Alangkah lebih baiknya jika ditulis: Mintalah maka akan diberikan kepadamu (jika Aku berkenan).

Kilas balik singkat. Saat aku kecil, aku meminta sesuatu dengan sepenuh hati kepada Tuhan, terus menerus. Tidak dikabulkan. Tidak masalah, terus bersyukur dan meminta. Tetap tidak dikabulkan. Kenapa? Ada yang berkata padaku,"Ini masalah hubungan. Orang tua mana yang mau anaknya hanya meminta tanpa mencintai balik? Kamu hanya meminta, seperti sebuah hubungan dagang" Aku menjawab,"Saat itu aku tidak hanya meminta, aku pun bercerita dan mencinta. Aku hanya sesosok anak kecil berusia 7 tahun, tidak mengerti konsep hubungan dagang. Mungkin sekarang, tapi dahulu, tidak. Dan orang tua macam apa yang mengharapkan cinta timbal balik dari anaknya yang masih bayi? Bukankah seharusnya kamu menyusui anak bayimu tanpa pamrih, tanpa mengharap dia mencintai kamu dulu."

Sampai aku melewati sebuah titik dimana aku menjadi apatis. Terjadilah kehendakNya tanpa aku perlu meminta lagi.

Mari bermain metafora.
Aku sebagai anak ayahku meminta sebuah handphone seri terbaru. Oleh ayahku diberilah aku sebuah walkie talkie. Karena dia berpendapat aku hanya butuh walkie talkie. Benar. Dan kamu mungkin akan bilang,"Udah syukur dikasih." Tidak salah. Disini aku belajar mensyukuri dan make do dengan apa yang aku punya. Terima kasih. Beberapa tahun lagi aku minta mobil BMW X5, karena aku tahu ayahku kaya. Diberinya aku sepeda ontel. Ya sudah, udah syukur bisa menggelinding. Terima kasih.

Aku minta laptop, disuruhnya aku bekerja part time. Ok, terima kasih sudah mengajarkan arti uang. Tapi setiap manusia punya batas, point of no return. Ada pegas yang bila ditekan terus akan melenting. Aku didorong dan ditekan sampai pada titik dimana aku berpikir aku akan bekerja sendiri untuk beli laptop, mobil dan handphone yang aku mau. Dan saat aku sudah earn uangku sendiri, aku tidak akan minta lagi dari ayahku. Aku tidak akan menuduh bahwa ayahku bukan ayah yang baik. Dia ayah yang unik, mengajarkanku tentang arti kerja keras. Tapi dia juga memaksaku untuk jadi seseorang yang mandiri. Dan karena cara didiknya yang keras, aku tidak akan dekat dan meminta lagi. Bila ayahku kenal aku dan ingin aku bermanja kepadanya, dia seharusnya tahu limit dan point of no returnku.

Analogi lainnya. Aku sekolah di luar negeri. Saat aku butuh uang dan menelpon ayahku yang kaya, aku tidak pernah dikirimi uang. Jangan salahkan aku jika setelah aku bekerja keras dan sanggup memenuhi kebutuhanku sendiri, aku tidak lagi meminta kepada ayah.
Aku tidak benci ayahku. Aku tahu dia punya reasonnya sendiri. Tapi ayahku juga tidak bisa berharap bahwa aku akan meminta dan mengetuk pintunya lagi. Seorang ayah yang mengerti anaknya luar dalam akan tahu batas pegas anaknya.

2. Tentang otoritas

Rakyat tidak akan punya hubungan yang hangat dengan pemerintah otoriter.

"Terjadilah kehendakMu" ini bukti dari otoritas dan kewenangan Tuhan. Dan sangat banyak misteri yang disembunyikan Tuhan dari kita manusia, terbukti dari banyaknya pertanyaanku yang belum terjawab. Sebuah hubungan yang sehat terbentuk dari cinta dan komunikasi. Apakah memang ini yang Tuhan mau? Sebuah hubungan yang terbentuk karena submission dan ketakutan akan otoritas?

atau cinta seperti yang diberikan seorang anak kecil kepada orang tuanya? Cinta yang ada karena selalu disirami kasih sayang dan perasaan terlindungi. Tapi setiap anak yang terlindungi pun akan tumbuh dewasa, akan bertanya,"Kenapa?". Apalagi seorang anak yang dibesarkan dengan didikan keras. How to stop a child from growing up? Dan seiring dengan perkembangan, akan ada waktu untuk komunikasi antar dua pihak dewasa. Disini aku merasakan tekanan otoritas Tuhan. Aku boleh tumbuh dewasa tapi aku tetap diberikan pakaian bayi. Jika memang Tuhan suka aku sebagai sesosok bayi, then just stop me from growing up. Bukankah Tuhan omnipoten? Jika Ia ingin aku bertumbuh, maka tolong sediakanlah pakaian seorang dewasa untukku. Definisi cinta setiap manusia berbeda. Untukku cinta dua orang dewasa bisa lebih indah daripada cinta seorang anak karena mereka mencinta melalui pergumulan hati, dialog, pengenalan, penerimaan, kedewasaan, bukan hanya taking things for granted.

Ibaratnya aku sebagai anak bertanya,"Mama, kenapa langit itu biru? Kenapa 1+1=2? Kenapa turun hujan?" Mamaku hanya menjawab,"Hus, anak kecil tidak perlu tahu. Belum waktunya" Lalu kapan waktunya? why didn't u even try? Ada anak-anak lain yang puas dengan jawaban itu dan berpikir,"Yah, mungkin aku memang masih kecil. Tidak perlu tahu kenapa langit itu biru. Mama benar." Tapi tidak demikiannya dengan aku. Dengan karakterku, aku akan mencari tahu, entah darimana. Bila aku tidak lagi berkomunikasi dan bertanya pada mama yang otoriter dan selalu menganggap aku anak kecil, sedihnya jika itu salahku juga. Bukankah anak adalah produk orang tua?

Subordinasi ke otoritas, mungkin bisa.
Tapi komunikasi? lain cerita.

Perempuan di titik nol


Ini sebuah labirin sesat.
Aku berputar terpilin ditempat.
Aku lelah di dunia berantah.
kembali ke titik awal, menyerah.

Entah karena kebanyakan nganggur atau pengaruh lingkungan, beberapa bulan terakhir ini aku mencari Tuhan dan dengan natureku yang curious dan kritis (baca: skeptis) aku jadi banyak bertanya. Belakangan aku banyak bergaul dengan orang-orang kristen karismatik. Saat kebaktian mereka fiery, ekspresif scr emosi, mereka melompat, menari, penuh roh (keliatannya). Lah, aku cuma bisa bengong. Koq mereka doank sih yang bisa? aku juga mau donk. Seru tuh kayaknya. Aku pikir aku bisa menemukan Tuhan disini, jadi aku ikut kegiatan2 mereka. Aduh mak, sibuk deh. Ada doa malam, doa pagi, komunitas sel (kumpul2 rohani intinya), kebaktian, dll. Empat hari dalam seminggu ada kegiatan, belum lagi ada kelompok2 pribadi yang bikin acara baca alkitab tiap hari, persekutuan doa tiap malam, dll.

Setelah beberapa waktu aku menyerah. Aku butuh waktu untuk hidup. Sebut aku judgmental, hedonis, terserah, tapi just do yourself a favor. Try to live, people. Sulit bagiku untuk menerima konsep bahwa aku harus menutup diri dari segala 'keduniaan' (ini bahasa mereka) untuk mencapai keselamatan kekal. Lah, untuk apa aku ada di dunia kalau aku ga boleh make the best out of my life here?

Kalau menurut pendeta mereka, hidup di dunia ini cuma transit. Ibaratnya kita naik pesawat dari Jerman ke Indonesia, transit di Qatar. Yang kita pikirin pasti ntar di Indonesia kita ngapain aja ya, makan apa ya. Bukan pas di Qatarnya. Lah? Aku mikir: daripada nangis kangen dan sibuk mikirin Indonesia pas transit, mendingan dinikmati dulu keberadaan kita di Qatar. Kita berbeda. titik. Aku lebih menganut prinsip living for the moment. Present. Sedangkan mereka lebih berorientasi ke masa depan.

Mungkin mereka ada benarnya, aku harus nabung untuk hari tua. Dan mereka juga harus belajar untuk foya foya dikit. Ibaratnya udah tajir melintir koq masih tinggal di gubuk. Life is short loh, ntar kalo udah tua, udah ga sempet ngebut pake Ferrari. Sayang kan? Intinya mereka dan aku sama2 harus achieve balance.

Hatiku selalu miris ketika pendeta setempat memperkuat konsep dikotomi. Manusia dikotak-kotakkan dan diberi judul. 'Duniawi' dan 'Rohani'. Yang jahat itu godaan dari setan. Yah terserah lah itu urusan mereka, tapi yang lebih miris lagi adalah ketika si pendeta mendikotomi agama. Menyerang, degradasi. Menyebut penganut agama tertentu kafir, penganut agama lain tidak punya damai sejahtera. Tidak cukupkah Anda merinci dan merunut keunggulan Anda sendiri, haruskah Anda menginjak orang lain untuk meninggikan diri? Maaf Pak, tapi dimataku, itu sindrom inferioritas. Mungkin Anda sendiri tidak yakin dengan keunggulan Anda, oleh karena itu Anda membandingkan secara sepihak.

Satu hal lagi yang aku susah terima. Mereka selalu menitikberatkan di persekutuan dan hubungan personal yang deket sama Tuhan. Nempel kalo perlu. Doa, baca alkitab, merenungi firman Tuhan. Nothing wrong koq dengan itu. Tapi yang mereka urusin ya selalu hubungan vertikal. Giliran hubungan horizontal dengan sesama, nol besar. Beneran deh, aku disitu ga ngeliat persaudaraan dan cinta kasih antar sesama. Yang aku liat lebih saling menghakimi, saling menjatuhkan, gosip kanan kiri, hipokrisi. Aku ya ga ngerti, katanya hukum dasar kristiani itu cinta kasih terhadap sesama. Mungkin karena aku hedonis,sekuler dan duniawi, aku mikir, kasih sesama lebih penting daripada hubungan vertikal -- aku ga bilang aku bener loh.

Sebagai analogi (catatan: tidak ada dikotomi agama disini, aku tidak mengdegradasi agama apapun). Taliban itu hubungan vertikalnya kuat banget deh, ga pernah lupa sholat, hafal bener sama ayat2 suci, nerapin hukum syariah. Tapi mereka nebarin teror dan ketakutan ke sesama manusia. Bandingin sama Gandhi, yang melawan kekerasan militer dengan kelembutan. Ga pernah Gandhi ngomong tentang Tuhan, (aku bahkan ga tau kalau Gandhi punya Tuhan personal) tapi betapa besarnya yang udah dia kasih ke dunia.
Mother Teresa, seberapa sering sih dia disorot lagi berdoa atau baca alkitab? Waktu beliau lebih banyak dipakai untuk nolong orang sakit dan miskin. That's what we call LEGACY, VERM√ĄCHTNIS. Ga cuma pepesan kosong. Ga perlu ngomong koar koar tentang hubungan sama Tuhan, kita udah bisa lihat kalau dia bener bener menerapkan Tuhan dalam hidupnya.

Aku sih jujur tidak hafal Alkitab. Tapi coba kita pikir, teladan kristiani itu Yesus kan, Dia pondasi dasar doktrin ini. Berapa banyak injil menulis tentang pelayanan Yesus ke sesama? Bandingkan dengan jumlah ayat dimana Yesus berdoa dan membangun hubungan vertikal pada Bapanya. On top of my head sih pas Dia di Getsemani sebelum disalib. Dan on top of my head aja udah banyak banget yang Yesus lakukan untuk sesama manusia.

Masalahnya kalo seseorang udah berpikir bahwa dia benar, bakal susah untuk menerima masukan. Waktu aku bilang bahwa hubungan horizontal lebih penting, mereka bilang aku salah. Ya sudahlah, aku diam saja. Tapi aku belajar bahwa aku juga harus balance out diriku, yang membawaku ke niat pengenalan Tuhan. Yang membawaku ke chapter selanjutnya: pertanyaan demi pertanyaan. Karena ini AKU dengan keponess-ku, aku ga bisa terima begitu saja tanpa bertanya dan menganalisis. Aku bertanya kepada mereka, yang aku anggap pengenalan akan Tuhannya jauh lebih dalam, tapi mereka tidak bisa menjawab pertanyaan2ku, malah mereka bilang,"Koq kamu bisa sampai berpikir kesana sih?" Lah, aku berpikir,"Bukannya kamu yang lebih cinta Tuhan? Gimana kamu bisa cinta kalo ga kenal? Bukan salahku kalo kamu sudah mengorbankan rasio kamu demi sebuah kepercayaan buta."

Aku tidak puas dengan jawaban,"Ibaratnya kamu mencoba memindahkan laut kedalam kolam ikan." Aku tidak berusaha memindahkan samudra Pasifik, aku hanya ingin agar kolam ikanku diisi penuh, baru aku bisa duduk manis minum kopi disore hari sambil menikmati keindahan kolamku. Damai. Tenang.

Kalau semua orang abandon pertanyaan2, mungkin kita sekarang masih hidup dijaman kegelapan, dimana kita semua masih percaya bahwa bumi itu datar, bahwa teori heliosentris itu sesat. Kita semua masih akan mengorbankan kambing untuk mencegah letusan volcano. Mungkin akan masih tetap menyembah Apollo. Jangan harap nonton televisi, gila kali gajah bisa masuk ke kotak kecil gitu.. What a twisted concept!

Apropos twistedness. Aku bertanya pada temanku yang aku anggap cukup religius tapi dia tidak bisa menjawab pertanyaanku juga, dia bahkan tidak pernah bertanya seperti aku. Dia bilang ke aku,"Kenapa sih kamu selalu pengen beda? You just want to feel special. Pengen ngerasa lebih baik daripada orang2 lain!" Well, sorry to disappoint him, setiap manusia itu spesial dengan kekurangan dan kelebihannya masing2. Dan dalam hal ini (logika dan analisis), aku memang lebih baik daripada dia. Ini talentaku, kelebihanku, jadi maafkan aku kalau memang aku pakai secara maksimal kamu merasa kalah. Ini bukan arogansi, ini hanya fakta. Aku lebih baik daripada dia dalam hal ini, tapi tidak menutup kenyataan bahwa dia unggul dibanding aku di bidang lain. Alangkah lebih baiknya jika dia konsentrasi ke kelebihannya sendiri daripada melempar batu ke aku karena keunggulanku.

Konklusi akhir: Aku keluar dari komunitas ini. Ini bukan tempatku. Kita berbeda. Mungkin aku akan terus mencari, mungkin juga tidak.
Aku hanya berharap "I'll find God on the corner of 1st and Amistad." (You Found Me- The Fray).